Tingkatkan Produksi Migas, Pertamina Wilayah Sumatra Bagian Selatan Agresif Lakukan Pengeboran 

oleh -27 views

Salah satu lokasi pengeboran.

PRABUMULIH (Kabar Rakyat) – Pertamina Subholding Upstream Regional Sumatra Zona 4 (Pertamina Zona 4) tingkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) secara agresif melalui pengeboran 37 sumur pengembangan sepanjang 2021. Hingga pertengahan Mei 2021, telah berhasil dibor 8 sumur pengembangan. Delapan sumur tersebut adalah BNG-A1 (Adera Field, PALI), AJDJ-113X, GRH-29X, dan GRH-30X (Ogan Komering & Raja Tempirai Field, Ogan Komering Ulu), SPA-DZ5, SPA-DZ4, dan MSI-TAF2 (Pendopo Field, Musi Rawas), serta BEL-P1 (Limau Field, Muara Enim). Dari 8 sumur tersebut, dihasilkan tambahan produksi minyak sebesar 1.533 barel per hari (Barrel of Oil Per Day/BOPD) dan gas 2,01 juta standar kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet Per Day/MMscfd). Sehingga produksi keseluruhan dari Pertamina Zona 4 saat ini untuk minyak 24.841 BOPD (target 2021: 25.830 BOPD), dan gas 543,33 MMscfd (target 2021: 512,48 MMscfd).

BACA JUGA =  Saling Ejek, Pemuda Tulung Selapan Dibacok 

General Manager Zona 4 Akhmad Miftah menyampaikan kegiatan pengeboran yang masif perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi dan memenuhi target produksi yang telah ditetapkan pemerintah melalui SKK Migas atas Pertamina Zona 4. “Tahun 2020 lalu, kami mengebor 16 sumur pengembangan, 28 kerja ulang (workover), dan 255 pekerjaan pemeliharaan sumur (well intervention). Target tahun 2021 menjadi 37 sumur pengembangan, naik secara signifikan dibandingkan tahun lalu, 26 workover, dan 285 well intervention. Ini merupakan tantangan bagi kami untuk mencapai target yang telah ditetapkan Pemerintah. Kami akan berusaha maksimal dan optimis bisa mencapainya,” ujar Miftah.

Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumbagsel Anggono Mahendrawan mengatakan, SKK Migas mendukung kegiatan pengeboran yang dilakukan Pertamina Zona 4. “Program pengeboran ini memperlihatkan tekad Pertamina untuk terus mempertahankan tingkat produksi di Sumatra Bagian Selatan. Upaya ini juga merupakan bagian dari upaya SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam merealisasikan pencapaian target produksi minyak 1 juta BOPD dan gas 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030, yang juga dapat terwuju atas dukungan dari seluruh pemangku kepentingan di daerah” katanya.

BACA JUGA =  Heri Prihariyanto SH Jabat Kasi Pidum Kejari OKI

” Untuk mengejar target 1  juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) atau setara 3,2 juta barel setara minyak per hari (BOEPD) pada tahun 2030, SKK Migas dan KKKS secara nasional meningkatkan jumlah kegiatan pengeboran sumur pengembangan sebanyak 616 sumur, peningkatan hal ini sangat masif bila dilihat dari pertambahan 364 pengeboran sumur atas realisasi 2020 yang sebesar 252 sumur. Sumatera adalah salah satu tulang punggung produksi migas nasional di tahun 2021 dan menuju target 2030, dimana 5 Provinsi di Sumatera Bagian Selatan berkontribusi sekitar 10% target produksi miyak bumi nasional dan sekitar 30% target produksi gas bumi nasional” ujar Anggono.

BACA JUGA =  Begal Beraksi di Mesuji Makmur OKI, Suami Tewas Ditembak, Kalung Istri Dirampas

Selain berupaya meningkatkan produksi, Pertamina Zona 4 juga terlibat dalam pengembangan masyarakat. “Beberapa program yang akan dilaksanakan di tahun 2021, antara lain beasiswa non-ikatan dinas untuk sekolah lanjutan di Akamigas Palembang, pemberdayaan kelompok tani dan tanaman obat keluarga (TOGA), pelatihan berbasis kebutuhan masyarakat, serta konservasi lingkungan bekerja sama dengan BKSDA Sumatra Selatan. Di samping itu, terdapat program penanggulangan pandemi COVID-19 dan program antisipasi terhadap bencana alam” terang Miftah.

Pertamina Zona 4 mengelola operasi produksi migas di Regional Sumatera bagian selatan. Produksi dihasilkan dari tujuh lapangan yang dioperasikan sendiri, yaitu Prabumulih, Limau, Pendopo, Adera, Ramba, Ogan Komering, dan Raja Tempirai. Selain itu, juga berasal dari dua wilayah kerja non-operator, yaitu Corridor dan Unitisasi Suban, serta sembilan Kerja Sama Operasi (KSO). (ril/krw)