Harga Karet Merangkak Naik, KKK 100 Persen Rp 19.309 Per Kilogram

oleh -139 views

Pegawai Disbunnak OKI monitoring UPPB salah satu kecamatan di Kabupaten OKI. Foto:  Istimewa.

KAYUAGUNG (Kabar Rakyat) – Harga komoditas karet di Sumatera Selatan menunjukkan tren peningkatan akhir-akhir ini, awal tahun 2021 harga karet terus naik walaupun sedikit. Harga karet dengan kadar karet kering (KKK) 100 persen senilai Rp 19.309 per kilogram.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Aris Panani SP MSi melalui Kepala Bidang (Kabid) Penyuluhan Pengolahan dan Pemasaran, Zulkarnain SP mengatakan, harga karet senilai Rp 19.309 per kilogramnya itu merupakan harga Selasa (9/2/2021). Harga tersebut berangsur naik sejak beberapa bulan terakhir ini. Dimana pada pertengahan tahun lalu harga terus merangkak naik dengan harga Rp 14.000 per kilogramnya hingga Rp 16.000 per kilogram.

BACA JUGA =  Satu Pelaku Penganiayaan Diamankan Tim Macan Komering Pedamaran

” Alhamdulillah harga karet petani terus alami kenaikan walau hanya sedikit. Ini karena membaiknya permintaan di pasar ekspor, ” ujar Zulkarnain, Rabu (10/2/2021).

Dijelaskan, untuk harga karet pada periode Senin 8 Januari 2021, harga KKK 100% tercatat sebesar Rp 18.872 per kilogram. Sementara untuk KKK 70% harga karet sebesar Rp 13.327 per kilogram, KKK 60% senilai Rp 11.423 per kg, KKK 50% senilai Rp 9.520 per kg dan KKK 40% senilai Rp 7.616 per kg.

Lanjutnya, harga karet terus naik tidak terlepas dari peningkatan ekspor ke beberapa negara tujuan. Harga karet naik setelah masa new normal hingga akhirnya mencapai angka senilai Rp 19.309 per kilogram, dimana pada Agustus lalu harga karet KKK dibawah Rp 14.000 kini terus berangsur naik. Seperti di akhir tahun pada 31 Desember 2020 harga karet KKK mencapai Rp 17.000 per kilogramnya.

BACA JUGA =  Dugaan Money Politik Pendukung 02 Diadukan ke Bawaslu RI

“Harga karet KKK 100 persen sekarang terus naik, masuk masa new normal membaik begitu pun ekspor mulai membaik,” katanya.

Diungkapkan, harga karet terus naik dengan alasan adanya lembaga Unit Pengolahan Pemasaran Bokar (UPPB). Yakni dengan cara dikoordinir kegiatan lelang karet ditingkat Kecamatan-kecamatan. Sehingga dengan adanya UPPB, maka harga karet dapat terkontrol dan menjadikan harga karet stabil. Dengan begitu kelompok tani karet tidak dirugikan. Dimana biasanya sebelum ada UPPB itu kelompok tani karet menjual kepada tengkulak dengan harga rendah.

BACA JUGA =  Peringatan! Indonesia Bubar Tahun 2030. Kobarkan Semangat Persatuan Untuk Lindungi NKRI

Kalau ada UPPB, petani karet menjual hasil karet ke UPPB dengan harga ketentuan (normal), kemudian UPPB menjualnya ke pabrik karet yang ada di Palembang. Berapapun jumlah hasil karet petani diterima oleh UPPB.

“Adanya UPPB ini jelas petani karet atau kelompok tani tidak dirugikan. Serta kesejahteraan petani terjamin karena ada yang menampung hasil karet mereka,” terangnya.

Dia menambahkan, adapun Kecamatan penghasil karet terbanyak di Kabupaten OKI terdapat di Kecamatan Lempuing, Lempuing Jaya, Pampangan, Mesuji, Mesuji Raya dan Tulung Selapan. Dimana hasil produksi karetnya stabil. Hingga saat ini ada sebanyak 11 UPPB yang terdata dan tersebar di beberapa Kecamatan. (nis/krw)