Tersinggung Dibilang Tidak Perkasa, Gigolo Bunuh Seorang SPG Cantik

oleh -555 views

Korban Ni Putu Yuniawati dan tersangka Bagus Putu Wijaya alias Gus Tu. foto:tribun.com/net.

DENPASAR (Kabar Rakyat)-Seorang sales promotion girl (SPG) mobil di Bali tewas dibunuh seorang gigolo yang baru dikenalnya lewat media sosial.  SPG malang itu adalah Ni Putu Yuniawati, dia berkenalan dengan tersangka Bagus Putu Wijaya alias Gus Tu (33) yang awalnya mengaku ingin membeli mobil korban.  Keduanya lalu sepakat bertemu.

   Dari perkenalan awal, saat ditanya soal propesi,  tersangka Gus Tu mengaku dia berpropesi sebagai gigolo yang menjajakan jasanya lewat online.  Setelah mendengar pengakuan Gus Tu, rupanya korban Ni Putu timbul fantasi. Dia (korban) timbul hasrat untuk ‘tidur’ dengan  Gus Tu . Korban lalu mengajak  makan tersangka.

Disana pembicaraan menjurus soal propesi Gus Tu. Akhirnya korban yang berparas cantik menyatakan ingin membooking tersangka.  Lalu terjadi kesepakatan transaksi antar kedua orang yang baru kenal tersebut. Korban minta dipuaskan hasrat seksualnya dengan bayaran Rp500 ribu kepada tersangka Gus Tu. Akhirnya keduanya sepakat, lalu mereka mencari penginapan murah. Mereka datang mengendarai mobil Suzuki Ertiga milik keluarga korban.

BACA JUGA =  Vendorday Pertamina EP Asset 2 dan Mitra Kerja: Tandatangani Ikrar Good Corporate Governance

Setelah mendapat penginapan murah yakni Penginapan Teduh Ayu 2 di kamar nomor 8, Jalan Kebo Iwa Utara, Padangsambian, Denpasar, Bali. Keduanya lalu check in. Di dalam kamar yang disewa Rp60 ribu untuk dua jam itu, keduanya asyik menyalurkan hasrat birahinya.  Namun setelah beberapa ronde ternyata korban Ni Putu tidak merasa puas dengan ‘permainan’ Gus Tu. Dia terus mengomel dan menrendahkan keperkasaan Gus Tu. Korban bilang merasa rugi telah membayar Rp500 ribu kepada Gus Tu.  Entah omongan apa,  tiba-tiba membuat tersangka Gus Tu naik darah.  Dengan sigap dia lalu membekap mulut korban dengan handuk.  Korban berusaha melepaskan diri namun tenaganya kalah kuat. Bekapan baru dilepaskan tersangka Gus Tu setelah dia yakin korban sudah tak benyawa. Peristiwa terbunuhnya korban Ni Putu terjadi Senin (5/8/2019) malam.

BACA JUGA =  Begal Motor Wilayah Keramasan Dibekuk Petugas. Setiap Melakukan Aksinya, Budi Selalu Ancam Korban Dengan Senjata

    Setelah itu, Gus Tu buru-buru meninggalkan penginapan. Dia pergi dengan membawa mobil Ertiga nopol DK 1988 HA, milik keluarga korban tadi.  Belakangan diketahui mobil itu digadaikan korban dengan temannya di daerah Sading,  Badung sebesar Rp 10 juta. Diduga uang itu digunakan tersangka Gus Tu untuk kabur  keluar Bali.

Sementara itu setelah ditemukan korban telah meninggal maka polisi melakukan autopsi dan visum pada hari Jumat (9/8/2019) pada pukul 08.30 Wita. Hasilnya pada tubuh korban ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Polisi menyimpulkan korban tewas karena dibunuh. Nama tersangka Gus Tu  langsung dikantongi sebagai orang yang paling  dicurigai atas tewasnya korban. Karena saat datang ke penginapan korban bersama dia.  Namun tersangka ternyata sudah tidak ada lagi di Bali,  dia sudah kabur.

Akhirnya polisi mendapat informasi keberadaan tersangka ada di Sulawesi Utara. Maka Satgas CTOC Polda Bali, Jatanras Polda Bali, Satreskrim Polresta Denpasar dan Polsek Denbar langsung diterjunkan untuk menangkap tersangka. Mereka dibantu jajaran kepolisian Sulawesi Utara.

BACA JUGA =  Jasa Raharja Berikan Santunan Rp 50 Juta Kepada Ahli Waris Korban Lakalantas

Tiga hari melakukan pengejaran, tersangka Gus Tu  (33) berhasil ditangkap  di Jalan Trans Ratahan Minahasa Tenggara, sekitar pukul 21.30 wita, Kamis (8/8/2019) malam. Gus Tu ditangkap berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP-B/878/VIII/2019/Bali/Resta Dps, pada tanggal 05 Agustus 2019.

     Kombes Pol Ruddi Setiawan menerangkan kepada wartawan saat press release  di lobby Mapolresta Denpasar, Senin (12/8/2019) siang, bahwa tersangka Gus Tu akan dijerat dua pasal yang berbeda yakni pasal 338 KUHP (pembunuhan) dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan pasal  365 ayat 3 KUHP (pencurian dengan kekerasan) dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun,” jelas Ruddi seperti dikutip dari Tribun.com. (sj/net/krw)