Ternyata Ini Alasan Suciati Nekad Menikam Suaminya Sendiri Hingga Tewas

oleh -301 views

Tersangka Suciati, kini ditahan di Polsek SU I Palembang karena telah membunuh suaminya sendiri. foto:ist.

PALEMBANG (Kabar Rakyat)- Setelah menghabisi suaminya dengan cara sadis, Suciati kini mendekam dalam sel tahanan Polsek Seberang Ulu (SU) I Palembang. Ketika ditemui wartawan, Kamis (8/3), Suciati (37) terlihat tenang. Tak nampak rasa penyesalan di wajahnya yang telah membunuh Isnadi (39), pria yang selama 22 tahun bersama dengan membina rumah tangga dan dikarunia 4 orang anak. ” Lega rasanya,  dan saya ada rasa bahagia karena bisa lepas dari siksaan yang selama ini saya rasakan, “jawab Suciati ketika ditanya perasaannya.

Rupanya Suciati selama ini tersiksa lahir dan batin menerima perlakuan suaminya, Isnadi. Bukan baru sekali ini dia mendapat perlakuan kasar dari suaminya namun sejak 3 bulan setelah menikah dia sudah dijadikan ‘sansak’ hidup oleh korban.

Suci lalu menceritakan kronologis terjadinya penusukan hingga menewaskan suaminya itu. Pada Rabu (7/3) suaminya tidak pulang ke rumah mereka yang terletak di Jalan Kemas Rindo, Lr Segayam,  RT 42,Kelurahan Ogan Baru,  Kecamatan Kertapati Palembang. Sebagai istri yang sah apalagi ada anak yang masih kecil tentu saja Suciati berusaha mencari keberadaan suaminya. Walaupun pagi itu hujan deras. Ternyata suaminya ( Isnadi) berada di rumah seorang wanita yang memang merupakan wanita selingkuhan suaminya. Letaknya masih di sekitaran rumah mereka juga.

Suciati dengan emosi lalu menyuruh Isnadi pulang. Melihat itu Isnadi menyuruh Suci pulang duluan nanti dia akan segera menyusul pulang. Tapi firasat Suciati suaminya pasti marah mungkin dia akan dihajar setiba di rumah mereka nanti. Ternyata dugaan Suci tidak meleset. Setibanya di rumah korban Isnadi langsung mengunci pintu dan memakinya. Belum puas kepala Suciati lalu dibenturkan ke tembok. “Sakit hati saya diselingkuhi malah diriku dianiaya,”kata Suciati.

BACA JUGA =  Terdakwa Kasus Pembunuhan Calon Pendeta Didakwa Pasal Berlapis

Puas melampiaskan emosinya apalagi melihat Suci menangis kesakitan, Isnadi (korban) masuk kamar. Dengan tenang dia buka baju lalu tidur. Kebiasaan korban setiap keluar dari rumah selalu membawa pisau. Nah pisau itu diletakannya dekat dia berbaring.

Mendidih darah Suciati dendamnya muncul seketika melihat suaminya langsung pulas. Antara dorongan untuk balas dendam itu buyar sekejap setelah ada suara anaknya yang bungsu memanggilnya.  Sempat dia akan mengurungkan niat buruknya. Namun tiba-tiba rasa kesal dan muak atas ulah suaminya selama ini membuat dia seakan mempunyai dorongan keberanian untuk berbuat nekat. Pisau suaminya berukuran 25 dim itu langsung ditusukannya ke perut korban yang saat itu mungkin sedang dibuai mimpi indah.

Mungkin korban ada memiliki ilmu kesaktian. Buktinya meskipun dia sudah ditikam pisau di bagian perutnya dia ( Isnadi) sama sekali tidak merasa kesakitan. Bahkan dengan repleks tangan korban Isnadi menjambak rambut Suciati dan memukulnya.

Suciati ketakutan. Dia khawatir suaminya balas menusuk dia. “Saya berteriak minta tolong tapi tidak ada yang datang menolong maka dengan sekuat tenaga saya dobrak pintu dan keluar melarikan diri,”kata Suciati. Untungnya korban tidak mengejarnya. Karena  luka cukup parah maka korban dibawa adik angkat mereka ke Ruang IGD RSUD Bari Palembang. Setelah disana adik angkat Suci tadi langsung pulang. Sementara di rumah, Suci berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dia tetap mengurusi anak-anaknya.

BACA JUGA =  Gelapkan Uang Pembayaran Pajak Kendaraan. Oknum Pegawai Dispenda Sumsel Dilaporkan ke Polresta

Sekitar pukul 09.00 WIB,  petugas dari RSUD Bari datang ke rumah orangtua suci.  Disana,  petugas menjelaskan bahwa korban tidak ada yang mengurus.  Jika keluarga tidak ingin mengurus korban,  maka pihak rumah sakit akan melapor ke polisi karena korban terluka akibat di tusuk bukan karena kecelakaan.

Mendengar penjelasan petugas runah sakit tersebut,  ibu empat  anak ini pun khawatir .  Jika suaminya tetap hidup maka keselamatan dia dan keluarganya terancam. “Kalau masuk penjara itu sudah pasti. Ketika  saya  dipenjara pasti anak aku sering disiksa dia.  Selain itu,  dia (Isnadi) dengan wanita  selingkuhannya akan menguasai rumah kami,”Suci memberi alasan kenekatan dia menghabisi korban.

Dalam keadaan kalut itu, akhirnya Suciati nekat datang ke RSUD Bari ke ruang IGD. Saat itu sekitar pukul 13.00 WIB.Tak lupa dia membawa pisau yang telah digunakan menikam suaminya. Pisau itu dibalutnya dengan kertas koran dan diselipkannya di pinggang kirinya.

Tiba di ruang IGD,  Suci melihat suaminya terbaring lemah di atas tempat tidur dengan tangan di infus.  Suci sempat bimbang untuk mengeksekusi suaminya yang sudah terbaring tak berdaya tersebut. “Sekitar lima menit saya sempat melihatnya dan sempat istighfar. Tapi,  keinginan untuk membunuh itu masih ada karena saya takut jika dia masih hidup saya dan anak –  anak saya pasti tetap disiksa, “aku Suci dihadapan petugas.

Akhirnya Suci membulatkan tekad, suaminya harus mati. Maka tanpa  ragu, dia menghujamkan pisau yang dia bawa tadi ke dada korban. Korban pun terbangun dan sempat berteriak lalu jatuh.  Saat korban jatuh dari tempat tidur ,  tersangka Suciati langsung kabur namun dia berhasil dibekuk petugas sekuriti rumah sakit tersebut. Suci lalu diserahkan ke Polsek SU I Pslembang.  “Saya tidak ada niat untuk kabur,  dan saya memang ingin menyerahkan diri ke polisi. Tapi saya lega karena tidak akan ada lagi yang menyiksa saya dan anak – anaknya, “bebernya.

BACA JUGA =  Usai Antar Istri Belanja, Pria Paruh Baya Meninggal Dalam Mobil X-Trail Miliknya. Diduga Akibat Serangan Jantung

Suci bahagia karena merasa telah bebas dari rongrongan serta siksaan suaminya, korban Isnadi. Menurutnya,  selama 22 tahun hidup berubah tangga dengan korban dia tidak pernah merasa adanya kebahagian layaknya suami istri.  Selama hidup dan tinggal bersama korban ia selalu mendapatkan siksaan – siksaan dari korban.  “Saya sudah sering minta cerai,  tapi korban tidak ingin bahkan mengancam  akan membunuh saya dan mengancam akan menyiram muka saya dengan air keras,”beber Suciati dengan lantang.

Sikap temperamen korban bukan hanya cukup di mulut tapi juga main tangan. Bukan hanya Suciati yang merasakan bengisnya Isnadi semasa hidup tapi anak-anaknya. Bahkan anak mereka yang tertua pernah dikejar pakai parang oleh korban. Terlambat masak atau yang diperintahnya lambat dikerjakan pasti dipukul atau dilempar sesuatu.  “Setiap habis solat saya selalu berdoa agar ia (Isnadi)  mendapat hidayah tapi  ternyata tidak ada perubahan sampai dia mati, “kata Suci sambil menangis. Dia berusaha tenang walapun akibat perbuatannya dia terancam pasal 340 KUHP , pembunuhan berencana yang ancaman hukumannya seumur hidup , pidana  mati atau penjara maksimal 20 tahun. (sihatjudin/krw).