Saigō Takamori Samurai Jepang Terakhir

oleh -1.629 views

 Samurai terakhir , Saigo Takamori (kiri) dan Kaisar Meiji (kanan). foto:net

Negara Jepang adalah negara maju di dunia namun tetap mempertahankan tradisi leluhur mereka. Bicara Jepang tentu tidak dapat dipisahkan dengan sejarah pendekar samurai mereka. Berabad-abad para samurai menjadi pasukan yang disegani dan diandalkan kerajaan kekaisaran Jepang.

Sekarang samurai sudah tidak ada lagi. Lantas siapakah samurai terakhir Jepang? Pernah ada film Last Samurai dengan bintang kondang, Tom Cruise yang berperan sebagai Kapten Nathan Algren. Film itu hanya fiksi semata baik tokoh-tokoh yang diperankan dalam film itu walaupun setting cerita hampir sama seperti yang terjadi dengan pemberotakan yang dipimpin Samurai Saigo.

Tom Cruise saat membintangi Film Last Samurai. foto:net

Sejarah Samurai dimulai dari periode Heian pada 710 M dalam kampanye khusus untuk menaklukkan Emirishi di wilayah Tohuku di bagian utara Honshu.

Selama berabad-abad mereka menjadi lebih kuat dan akhirnya menjadi ‘prajurit bangsawan’ di Jepang, yang membentuk kelas penguasa dari sekitar abad ke-12 sampai abad ke-19.

BACA JUGA =  Dialog SMSI Pusat Bersama Mohammad Nuh dan Hatta Rajasa. Eksploitasi Wajah Baru Tak Terelakan

Pada saat Kaisar Meiji berkuasa pada tahun 1868, prajurit samurai mulai sedikit-demi sedikit dihapuskan. Pertama, dilucuti haknya untuk menjadi satu-satunya kekuatan bersenjata di Jepang, dan mulai memperkenalkan gaya militer Barat dari tahun 1873.

Kaisar Meiji  lahir di Kyoto, 3 November 1852 – meninggal di Tokyo, 30 Juli 1912 merupakan kaisar Jepang ke-122 sesuai urutan tradisional suksesi, memerintah dari 3 Februari 1867 sampai meninggal dunia.

Adanya upaya Kaisar Meiji untuk menghapuskan kekuasaan samurai mendapat perlawanan dari klan samurai Satsuma yang dipimpin Saigo Takamori. Terjadilah perang saudara yang selama 11 bulan pada tahun 1877. Ini merupakan perang saudara terakhir dan terbesar dalam sejarah Jepang. Perang terjadi di beberapa wilayah di Kyushu.

Pasukan kekaisaran Jepang yang dikomandoi Kaisar Meiji dengan panglima perang, Sumiyoshi Kawamura itu berkuatan 300.000 prajurit sedangkan klan samurai Satsuma dipimpin Saigo Takamori berkekuatan 40.000 samurai. Walaupun pihak samurai akhirnya kalah namun diperkirakan jumlah tentara kaisar lebih banyak yang tewas yakni sekitar 60.000 prajurit sedangkan di pihak samurai hanya 30.000 yang tewas.

BACA JUGA =  2 SISWA SMAN SUMSEL IKUT OLYMPIADE MATEMATIKA DI SEOUL

  Pemberontakan Satsuma disebabkan oleh adanya perubahan sistem pada pemerintahan, yang menyebabkan kekecewaan para samurai. Modernisasi Jepang telah menyebabkan hilangnya kekuasaan samurai dan penghancuran sistem tradisional. 

   Padahal 10 tahun sebelumnya, Saigo berjasa memimpin  pasukan Jepang untuk mengalahkan samurai klan Tokugawa.

Pada awal diberlakukan konsep Restorasi Meiji , sebenarnya Saigō setuju dan mendukungnya. Namun belakangan ketika Restorasi Meiji ingin menghapus segala bentuk samurai dan atributnya maka dia menolak. Karena tidak ada titik temu antara dia dan kaisar maka terjadilah pemberontakan.

Para samurai yang memberontak itu tidak sepenuhnya berperang menggunakan samurai semata. Namun para samurai itu telah mengadopsi teknologi barat. Mereka memakai meriam dan senjata api. Bahkan Saigō sebagai panglima perang samurai juga memakai baju militer ala barat. Barulah di saat stok senjata mereka habis, mereka memakai katana dan panah.

BACA JUGA =  Pertahankan Zero Konflik di Muba, Bupati Muba Dodi Reza Silaturahmi ke BIN Sumsel
   Saigo mengakhiri hidupnya dengan melakukan ‘seppuku'(satu bentuk ritual bunuh diri yang dilakukan oleh samurai di Jepang dengan cara merobek perut dan mengeluarkan usus untuk memulihkan nama baik setelah gagal  melaksanakan tugas) pada 24 September 1877. Dia terluka berat pada pertempuran terakhir di Shirōyama. Dalam keadaan hampir tertangkap pasukan pemerintah, Saigō melakukan ‘seppuku’ . Peperangan ini menghabiskan dana besar di pemerintah Jepang, sekaligus merupakan akhir dari kelas samurai di Jepang.

    Sepuluh tahun kemudian, Kekaisaran Jepang meminta maaf dan memberikan gelar kemuliaan kepada Saigō sebagai samurai yang terakhir.(sihatjudin/net/berbagaisumber).