Breaking News
Home / Sumsel / Palembang / Rekomendasi Bawaslu Sumsel Banyak Dicueki KPU. Dewan Pers Gelar Workshop Peliputan Pemilihan Legislatif dan Presiden

Rekomendasi Bawaslu Sumsel Banyak Dicueki KPU. Dewan Pers Gelar Workshop Peliputan Pemilihan Legislatif dan Presiden

Para narasumber workshop Dewan Pers dengan moderator Ketua PWI Sumsel,  Firdaus Komar. foto:sihat/krw.

PALEMBANG (KabarRakyat) -Dewan Pers menggelar workshop dengan tema “Peliputan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden Tahun 2019” yang berlangsung di Hotel Arista Palembang,  Rabu (15/5/2019). Acara itu diikuti puluhan wartawan online,  cetak maupun elektronik.  Acara yang dimoderatori Ketua PWI Sumatera Selatan,  Firdaus Komar itu ada dua narasumber dari Dewan Pers yakni Ratna Komala dan Jimmy Silalahi dan Junaidi, anggota Bawaslu Sumsel.

Ratna yang membahas topik “Pers Mengawal Hasil Pemilu 2019” menekankan pers Indonesia harus kembali ke khittah.  Marwah jurnalis terhormat akan terwujud jika dalam menjalankan tugas propesinya selalu mengedepankan kode etik jurnalistik.

BACA JUGA =  Pengedar Narkoba Ditangkap Saat Tunggu 'Pasien'. BB Disita 12 Paket Sabu dan 22 Butir Ineks

Sedangkan dari Bawaslu Sumsel,  Junaidi SE, MSi, menegaskan pemilu tahun ini pihaknya banyak menerima laporan kecurangan dari calon legislatif yang kalah. Khususnya dari Kabupaten Empat Lawang,  Mura dan Muratara.  Hanya saja Junaidi,  merasa sedih karena beberapa rekomendasi yang disampaikan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumsel namun tidak ditanggapi.  “Padahal undang-undang sudah jelas mengatur bila ada rekomendasi Bawaslu maka KPU harus menanggapinya, “tegas Junaidi.

Dijelaskan Junaidi, para caleg banyak yang melapor ke Bawaslu bahwa surat mereka dicuri,  C1 diubah atau suara caleg lain ditambah.  Pihak Bawaslu sudah melakukan sidang dengan pihak kejaksaan pada tahap pertama dan laporan itu memenuhi unsur.  ” Nanti saatnya mereka (caleg) akan gugat ke MK dan ini bisa banyak yang akan masuk penjara mulai dari PPK,  KPU,  hingga lurah atau kades,” tegas Junaidi.  Putusan MK  itu nantinya,  bisa saja mengubah posisi yang semula telah ditetapkan caleg jadi namun ternyata diputuskan tidak jadi.

BACA JUGA =  96 Warga OKI Ikuti Pelatihan Berbasis Kompetensi

Segala ‘kekacauan’ pemilu 2019 ini Junaidi membandingkan dengan Negara India. Menurutnya disana,  pemilu sudah menggunakan teknologi canggih.  Maka saat pencoblosan selesai, pukul 14.00 Wib siapa pemenang pemilu sudah bisa diketahui.  “Mengapa kita (Indonesia)  tidak melakukan seperti itu. Apa kita tidak percaya teknologi atau memang sengaja dibuat seperti itu, “katanya.

Jimmy Silalahi (kemeja putih)  bersama dua orang jurnalis dalam sesi acara workshop di Hotel Arista, Rabu (15/5/2019). foto:sihat/krw.

BACA JUGA =  Rampas Hp dan Tikam Pelajar Hingga Tewas, ABG Dituntut 5 Tahun Penjara

Jimmy Silalahi dari Dewan Pers membahas topik Liputan Berita Pasca Pemilu, menegaskan agar pers tidak selayaknya menjadi ‘kompor’ (malah membikin panas suasana) atas berbagai persoalan di masyarakat. Selain itu Jimmy juga mengingatkan agar pers (media)  mengawal proses rekapitulasi suara hingga tuntas.  “Mengingatkan janji kampanye capres atau caleg terpilih. Kampanye mulanya diketahui dari anda (pers) dan diakhiri oleh anda (pers) juga,”pungkas Jimmy. (sj/krw)

Tentang sihaj

Baca Juga

Firdaus Berhasil Ungguli Teguh Santosa, Terpilih Sebagai Ketum SMSI

Firdaus saat memberikan kata sambutan usai terpilih sebagai Ketua Umum SMSI periode 2019-2024.foto:net. JAKARTA (Kabar …

Tinggalkan Balasan