Para Pelaku Bobol Rekening Saat Error System. Kasus Ilegal Akses Digital Rekening

oleh -102 views

Sidang kasus ilegal akses digital rekening,  di Pengadilan Negeri (PN) Kayuagung, Rabu (3/3/2021). Foto : nis.

KAYUAGUNG (Kabar Rakyat) – Saksi Sandi Karisma yang merupakan anggota polisi Mabes Polri yang melakukan penangkapan terhadap para pelaku dalam persidangan menjelaskan bahwa error system di BRI pada kejadian, sehingga para pelaku dapat dengan mudah menjebol/ memindahkan dana dari rekning korban ke rekening tabungan yang telah disiapakan oleh para terdakwa.

” Atas kejadian itu memang benar adanya laporan dari pihak BRI ke tim cyber mabes polri. Lalu akhirnya melakukan penangkapan terhadap terdakwa Aldo Yohanes dan lainnya, ” ungkap saksi Sandi, di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Kayuagung, Rabu (3/3/2021).

Dalam persidangan kasus ilegal akses digital rekening ini, seperti biasa keenam terdakwa Aldo Yohanes (19), Ginay Stoven (26), Kelik (53), Yendes Lanindo (25), Jakbar (50) dan Riyes Rapiko (19) semuanya warga Dusun 1 Desa Lebung Gajah Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjalani sidang secara virtual. Yakni berada di Lapas Kayuagung.

BACA JUGA =  11 Remaja Diduga Terlibat Aksi Begal dan Pembunuhan Siswa SMP Diringkus Buser Poltesta Palembang

Dalam persidangan sebelumnya, disurat dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum ((JPU) Sosor Panggabean SH, para terdakwa didakwa dalam pasal berlapis dengan ancaman pidana 20 tahun penjara.

Di persidangan itu dengan Majelis hakim diketuai Eddy D Sembiring SH MH anggota I Made Gede Kariana SH dan Anisa Lestari SH serta panitera pengganti (PP) Hendri Agustian SH.

Terungkap, para terdakwa bertempat di Dusun 1 Rt 01/002 Kelurahan Lebung Gajah Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten OKI pada 10 Juni 2020 sekira pukul 20.46 Wib sampai 11 Juni 2020 sekira pukul 06.25 Wib melakukan dan turut serta melakukan memenuhi unsur sebagaimana pasal 30 ayat (2) yaitu dengan sengaja dan tanpa gak atau melawan hukum mengakses komputer dan atau sistem elektronik dengan cara apapun dengan tujuan untuk mempermudah informasi elektronik atau dokumen elektronik.

” Dalam perkara ini didakwa dalam pasal 46 ayat (2) UU No 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU No 11 tahun 2008 tentang informasi dan elektronik jo pasal 55 ayat (1) ke-1 Kuhp, pasal 82 UU No 3 tahun 2011 tentang tranfer dana jo pasal 55 ayat (1) ke-1 Kuhp, ” ujarnya.

BACA JUGA =  31 Peserta Lulus Tes Potensi Calon Anggota Komisi Informasi Sumsel

Lalu, juga didakwa dalam pasal 3 UU RI No 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang jo pasal 55 ayat (1) ke-1 Kuhp dan pasal 5 U RI No 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang jo pasal 55 ayat (1) ke-1 Kuhp. Dengan ancaman pidana 20 tahun penjara.

Dijelaskan, dari keenam terdakwa ini masing-masing perannya berbeda-beda. Para terdakwa melakukan perbuatan ilegal akses dengan cara digital yaitu memindahkan uang dari rekening milik nasabah BRI ke rekening penampung uang hasil kejahatan yang telah disiapkan terdakwa Yendes, Jakbar dan Reyes dengan menggunakan sarana agen Brilink nama M Rizky dan Sugianto. Dimana agen tersebut sudah dikuasai oleh para terdakwa.

BACA JUGA =  Alumni EU Palembang Gelar Reuni dan Bukber. Ajang Pererat Tali Silahturrahim Serta Mencari Peluang Usaha Baru

Sehingga membuat kerugian materil BRI senilai Rp 855 juta.

Terungkap, terdakwa Jakbar, Yendes dan Riyes menyiapkan rekening tampungan hasil kejahatan sebanyak 5 rekening BRI. Untuk Terdakwa Aldo, Kelik dan Ginay bertugas mengakses rekening nasabah.

Lalu terdakwa Aldo membeli agen Brilink secara online melalui media Facebook senilai Rp 1,1 juta lalu dapat cek acak data nasabah. Kemudian ada OTP sebanyak 6 digit sehingga saldo pemilik muncul otomatis. Kemudian bisa transfer.

” Dalam sehari maksimal 5 juta untuk 1 nasabah, berhasil sebanyak 171 rekening hingga menghasilkan Rp 855 juta, ” ucapnya.

Dalam persidangan, itu para terdakwa didampingi penasihat hukum dari Posbakum PN Kayuagung yaitu Candra Eka Septawan SH.

Sidang dilanjutkan kembali pekan depan dengan menghadirkan 2 orang saksi. Yakni satu orang saksi dari pihak BNI dan satu orang saksi dari ahli forensik Cyber Mabes Polri. (nis/krw)