Merasa Difitnah, Anggota DPRD Sumsel Laporkan Pegawai BI ke Polda

oleh -333 views

 

Advokat M Maiwan Kaini, kuasa hukum Kamirul melaporkan Yusparman ke Polda Sumsel.foto:fadil/krw.

PALEMBANG – Merasa nama baiknya baik secara pribadi maupun selaku pejabat publik, Kamirul, anggota DPRD Provinsi Sumsel melaporkan balik Yusparman (47), pegawai Bank Indonesia yang sebelumnya telah melaporkannya ke Polresta Palembang atas tuduhan melakukan tindak penipuan.
Melalui kuasa hukumnya, Advokat M Maiwan Kaini, SH, MH, politisi Partai Hanura itu melaporkan Yusparman dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik dan fitnah atau pasal 310 dan 311 KUHP ke Polda Sumsel, Senin (2/4)
“Klien kami merasa tercemarkan nama baiknya dan mengarah ke fitnah, dimana saat itu dia tengah berada di luar kota dalam rangka melaksanakan tugas sebagai anggota DPRD Sumsel. Mengetahui jika Yusparman telah melaporkan dirinya ke Polresta Palembang atas tuduhan penipuan dari pemberitaan media cetak dan online,” ungkap Maiwan usai melapor di Polda Sumsel, Selasa (3/4).
Dijelaskan Maiwan, kejadian ini bermula saat kliennya dan terlapor di tahun 2012 silam melakukan kerjasama penanaman bibit karet, bermula dari Kamirul yang memiliki lahan seluas 6 hektar di Talang Maryada Desa Beringin Kecamatan Rambang Lubai, Muara Enim. Lahan yang masih berupa semak belukar itu ditawarkan untuk dikerjasamakan kepada pelapor dengan perjanjian terlapor bersedia membeli lahan tersebut dengan cacatan harus terlebih dulu ditanami bibit karet.
Saat itu, terlapor (Yusparman) yang didampingi sang istri bersama Kamirul meninjau langsung lahan karet yang bakal dikerjasamakan tersebut dan terlapor menyatakan ketertarikannya untuk bekerjasama.
Akhirnya, tercapai kesepakatan dari total lahan yang dibeli senilai Rp250 juta, terlapor membayarnya dengan cara dicicil selama kurun waktu satu tahun dan baru dibayar sebesar Rp201 juta. “Oleh klien kami uang tersebut dibelikan bibit karet dan dilakukan pembersihan lahan dengan mengupah orang, tapi menginjak di tahun kelima dia (terlapor) meminta agar uangnya dikembalikan dengan dalih bibit karet yang ditanam kerdil dan tak sesuai harapan,” ungkap Maiwan.
Disini, Maiwan menegaskan kerdilnya bibit karet yang ditanam meski sudah berusia lima tahun justru diakibatkan karena terlapor yang tak kunjung melunasi sisa pembayaran sebesar Rp49 juta sesuai kesepakatan awal.
Bahkan, lantaran tak ingin masalah ini menjadi kian rumit, Kamirul beritikad baik dengan mengembalikan uang terlapor sebesar Rp10 juta yang ditransferkan ke rekening Bank Mandiri terlapor. “Yang kami pertanyakan kalau dibilang menipu apa yang ditipu sudah lihat sendiri lahannya dan ditanami bibit karet, selain itu kami juga mempersoalkan locus delicty-nya di Muara Enim kenapa melapornya ke Polresta Palembang,” sebut Maiwan yang berharap polisi dapat menindaklanjuti laporan kliennya ini.

BACA JUGA =  Soal Target Juara pada Porprov XI, Ketua KONI dan Bupati OKI Berbeda

Sebelumnya, pada 29 Maret 2018 lalu Yusparman melaporkan Kamirul atas dugaan penipuan dan penggelapan.
Menurut Yusparman, kejadian bermula saat di tahun 2012, Kamirul menawarkan dirinya untuk investasi lahan kebun karet yang ada di Kabupaten Muara Enim. Untuk itu pelapor oleh terlapor diminta menyerahkan uang sebesar Rp201 juta yang dikatakan bakal dipergunakan untuk mengolah kebun karet tersebut.

Lantaran tergiur dengan janji terlapor yang meyakinkan dirinya lahan tersebut nantinya bakal menghasilkan keuntungan berlipat pelapor luluh. Pada 1 September 2012 pelapor pun lantas mentrasferkan uang senilai Rp201 juta sesuai yang diminta terlapor melalui Bank Mandiri RSMH Palembang. “Tapi ternyata lahan kebun karet yang dimaksud lokasinya tak sesuai perjanjian semula, sayapun akhirnya memilih membatalkan investasi. Dan dia ( terlapor) telah berjanji bakal mengembalikan uang yang sudah saya setor dan meminta waktu. Ternyata sampai saat ini dia tak menepati janjinya dan saya merugi hingga Rp201 juta,” ucap pelapor.(fdy/krw)

BACA JUGA =  Desa Ulak Pandan, Lahat Patut Jadi Percontohan