Kejagung dan BKSDA Sumsel Musnahkan Offset Hewan Liar. Kejagung Fokus Berantas Perburuan Serta Penjualan Hewan Dilindungi Undang-Undang

oleh -445 views

Pihak Kejagung RI dan BKSDA melakukan pemusnahan offsetan satwa liar di Kantor BKSDA Sumsel, Rabu (7/2).foto:simbur/net

PALEMBANG (Kabar Rakyat)– Maraknya perburuan satwa liar khususnya di Sumatera Selatan (Sumsel), secara tidak langsung bukan hanya berdampak pada ekosistem lingkungan namun juga merugikan negara triliunan rupiah per tahunnya. Hal itu disampaikan Jaksa Muda Kejagung RI, Ricardo Sitinjak SH MH, selaku Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Sumber Daya Alam Lintas Negara (SDA-LN) usai pemusnahan offsetan satwa di Kantor BKSDA Sumsel, Rabu (7/2).

Menurut Ricardo, satwa liar sering diburu karena harga pasarannya terbilang tinggi. Bahkan jaringan pelaku adalah jaringan lintas negara. “Memang perdagangan lintas negara banyak dilakukan, khususnya perdagangan trenggiling, babi lobster dan termasuk cula badak. Itu banyak dilakukan karena harganya sangat mahal. Satu cula badak itu beratnya 200 gram dan satu gram itu harganya Rp 20 juta. Jangan salah, (perdagangan) satwa liar itu merugikan negara triliunan rupiah per tahun,” ungkapnya.

BACA JUGA =  Rumah Dilempar Genteng, Suharto Habisi Tetangga

Ditegaskan Ricardo, sudah banyak sekali pemain lama di bisnis ilegal tersebut yang ditangkap. Kajagung RI juga tidak segan memberikan tuntutan (hukuman) yang tinggi. “Jika dilihat Undang-Undang (UU), hukuman terkait hal itu maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Tetapi sekarang, untuk satu ekor trenggiling saja kami menuntut hukuman tiga tahun penjara dan denda Rp 100 juta,” ujarnya.

Ricardo mengajak masyarakat berperan aktif bersama NGO, WCS, JSL untuk mengantisipasi serta mencegah penyelundupan dan perdagangan satwa liar.

BACA JUGA =  Majelis Hakim Keluarkan Penetapan Penahanan Irpan Hadi, Anggota DPRD OKI yang Diduga Gunakan Ijazah Palsu

Dijelaskan Ricardo  pemusnahan offset hewan liar itu merupakan yang pertama kali dilakukan di Sumsel. Namun sebelumnya, pemusnahan sudah dilakukan di 8 tempat antara lain di Medan, Padang, Bengkulu, Sumsel. Untuk Riau dan Jambi pemusnahan akan digabung Jakarta pada 27 Februari 2018 yang akan datang. Hal itu karena ofset yang disita jumlahnya sangat banyak.

Kejagung RI tetap fokus untuk pemberantasan dan pencegahan perdagangan satwa liar termasuk pasar yang banyak menjual satwa liar yang sudah diawetkan. Ada sekitar 290 jenis hewan yang dilindungi, dan itu harus diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman S Hasibuan mengatakan barang offset hewan liar yang dimusnahkan berasal dari masyarakat yang mulai sadar setelah dilakukan sosialisasi dan penegakan hukum. “Jenis yang diserahkan totalnya 33 unit. Jika diuangkan sebenarnya itu susah untuk diprediksi karena itu adalah hobi. Jadi terkait itu, bisa saya bilang tidak bisa dihitung. Namun, yang jelas jika diuangkan, nilainya sangat mahal,” ucapnya.

BACA JUGA =  Sarimuda-Rozak Didukung 3 Partai Besar. Tepis Isu Tidak Akan Lolos Karena Kurang Partai

Untuk upaya pencegahan, selama ini pihaknya terus melakukan sosialisasi atau pendekatan persuasif kepada masyarakat. “Dengan itu, kami mencoba untuk mengidentifikasi daerah mana saja yang rawan terjadi kegiatan perburuan liar. Selain itu, petugas juga langsung turun ke lapangan. Dengan begitu, diharapkan kegiatan tersebut secepatnya bisa diidentifikasi oleh petugas,” katanya.(fdl/krw).