HKSR Gelar Pertemuan Cegah Stunting di OKI

oleh -88 views

Acara pertemuan reguler untuk mencegah stunting di Kabupaten OKI, Senin (30/4).foto:nis/krw.

KAYUAGUNG (Kabar Rakyat)- Guna membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ilir (OKI) dalam pencegahan stunting, membuat forum multi stakeholder advokasi Hak kesehatan Seksual Reproduki (HKSR) melaksanakan pertemuan reguler. Acara bertempat di Aula Bappeda OKI, Senin, (30/4).
Dalam pertemuan itu dihadiri perwakilan dinas dan instansi terkait yakni dinas sosial, dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, kementerian agama, ibu-ibu PKK, tokoh adat, tokoh masyarakat, Bumdes, perwakilan Woman Crisis Center dan lainnya.
Selaku fasilitator dalam pertemuan itu, Yeni Roslaini Izi menjelaskan, dengan adanya forum pertemuan ini,  membantu Pemkab OKI dalam pencegahan stunting di OKI. Stunting sebagai kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 hari pertama kehidupannya, dari janin hingga dua tahun. ” Dimana Kabupaten OKI termasuk 100 kabupaten/kota se Indonesia sebagai wilayah pencegahan stunting,” ujarnya.
Lanjut dia, maka terkait itu,  Kabupaten OKI menjadi prioritas pencegahan stunting terintergritasi. Semua perwakilan yang terkait bertemu untuk membahas bagaimana pencegahan stunting bisa sampai ke masyarakat yakni dengan cara melakukan sosialisasi melalui penyuluhan ke masyarakat di desa-desa guna pencegahan stunting. Masih kata Yeni, dalam hal pencegahan ini masuk program rutin, bulanan dan lainnya. Jadi semua dinas/instansi terkait berkomitmen gerakan untuk penurunan stunting secara bersama.
Diungkapkan, stunting terjadi di banyak kabupaten/kota di Indonesia. Satu dari tiga balita Indonesia mengalami stunting. Akibat dari stunting adalah perkembangan otak dan fisik anak terhambat. Anak menjadi sulit berprestasi, menjadi rentan terhadap penyakit. Lalu ketika dewasa mudah menderita kegemukan, sehingga berisiko terkena penyakit jantung, diabetes dan penyakit menular lainnya.
Adapun sisi bersama cegah stunting, Yeni menegaskan, berbagai sektor dalam penurunan stunting, serta berdiskusi dengan para pelaku program di lapangan. Sedangkan untuk lintas sektor terdiri dari pemberdayaan masyarakat, pemenuhan asupan gizi, perbaikan sanitasi masyarakat, kampanye gizi dan pemantauan serta evaluasi.
Ditambahkan, sisi kegiatan penanggulangan stunting di desa, berlokasi di lingkungan terkecil. Mulai di keluarga, di kampung, dan di desa. Lingkungan terkecil seperti pembuatan peta sosial desa, rembuk desa untuk membahas hasil pemetaan. ” Adanya pengembangan Prukades (produk unggulan kawasan pedesaan), pengembangan embung desa sebagai sumber protein bagi masyarakat dan lainnya,” pungkasnya. (nis/krw)

BACA JUGA =  Semak Belukar Terbakar, Warga Sematang Borang Cemas