Dodi Reza Maju di Pilgub Sumsel, Tidak Ada Istilah Politik Dinasti.  Deru, Mawardi Pernah Ajukan Anaknya, Ishak Mekki Pernah Ajukan Istri dan Anaknya

oleh -395 views

 

PALEMBANG (Kabar Rakyat)-  Tudingan adanya politik dinasti dalam pilgub Sumsel 2018 menyerang Alex Noerdin, Gubernur Sumsel sekarang. Tudingan tersebut disebar melalui pemberitaan online dan sosial media seperti facebook.  Bahkan salah satu calon gubernur lainnya ikut menuding hal tersebut. Alex dituduh melestarikan jabatannya dengan mengajukan anaknya, Dodi Reza Alex menjadi calon gubernur Sumsel berikutnya.

    Apa arti politik Disnati itu sendiri?  Dalam Buku Ajar III Bangsa, Budaya, dan Lingkungan Hidup di Indonesia. Jakarta terbitan Balai Penerbit FKUI, pengertian Dinasti adalah sistem reproduksi kekuasaan yang primitif karena mengandalkan darah dan keturunan dari hanya bebarapa orang. Oleh karena itu di dalam dinasti tidak ada politik karena peran publik sama sekali. Pengertian ini lebih mengarah dalam sistem kerajaan. Tetapi dalam pilgub Sumsel, pemilihan dilakukan secara langsung oleh rakyat.

       Untuk diketahui, dalam pilgub Sumsel yang sekarang sedang memasuki masa kampanye, anak Alex Noerdin yakni Dodi Reza Alex Noerdin ikut maju dalam pilgub tersebut berpasangan dengan Giri Ramanda Kiemas dan mereka didukung Partai Golkar, PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa. Dodi dan Giri menghadapi pasangan Herman Deru-Mawardi Yahya, Ishak Mekki-Yudha Mahyudin dan Wari-Irwansyah.

        Jelas tudingan itu sangat merugikan nama baik Alex Noerdin dan Dodi. Serangan itu terus menerus dilontarkan lawan-lawannya baik secara langsung maupun melalui pendukung mereka. ‘’Bapaknya belum berakhir jabatannya kini anaknya siap menggantikan bapaknya. Ini jelas dinasti,’’ ujar salah satu calon gubernur.

          Tudingan tersebut dibantah dengan keras Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.  “Ini bukan disnati. Kalau dinasti, sejak belum lahir sudah jadi raja. Ini melalui pilkada,’’ kata Alex Noerdin seusai menghadiri penyerahan hasil evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Batam, Kepulauan Riau, Kamis, 25 Januari 2018 beberapa waktu lalu. Di beberapa kesempatan kepada wartawan Alex juga menyatakan hal itu. ‘’Dodi punya kemampuan. Dia Bupati Muba. Dulunya dia anggota DPR RI. Di pintar dan memiliki kemampuan. Kenapa saya mesti melarang anak saya maju di pilgub Sumsel. Semua orang punya hak yang sama,’’ katanya.

    Alex juga menyatakan penetapan gubernur melalui pemilihan oleh masyarakat sehingga tidak bisa dinyatakan sebagai dinasti. “Ini pilihan rakyat. Kalau kalah, tidak terpilih,” ujar dia.

       Dalam kesempatan itu, Alex menyatakan yakin anaknya memiliki kompetensi menjadi kepala daerah. Sebelum memutuskan untuk maju dalam pilkada, Dodi juga sudah berdiskusi dan berkonsultasi dengan dirinya. ‘’Kalau dia tidak kompeten, saya yang paling duluan melarang. Kalau saya tidak yakin kompetensinya, saya larang,’’ kata Alex. Ia juga membantah akan adanya konflik kepentingan bila anaknya ikut dalam pilkada.

   Sementara itu, pengamat politik Sumsel, Joko Iman Santoso mengatakan tidak ada istilah politik dinasti dalam pilgub Sumsel 2018 . Menuruh Joko, Alex Noerdin tidak melakukan itu. ‘’Anak Alex Noerdin Dodi punya kapasitas dan kapabilitas. Dia sudah punya pengalaman memimpin. Memang dari sisi darah ada hubungan dengan Alex Noerdin tetapi Dodi punya hak asasi untuk dipilih dan memilih. Memang dulu ada undang undang yang melarang anak seorang pejabat maju dalam pilgub atau pilbub tetapi itu sudah dibatalkan Mahkamah Konstitusi,’’ tegasnya ketika dihubungi via telpon baru baru ini.

   Kalau kita analisa, majunya seorang anak dari seorang pejabat daerah sudah sering terjadi. Dari ketiga calon Gubernur yang maju, Cuma Aswari Rivai alias Wari saja yang belum pernah mengajukan anaknya menjadi calon kepala daerah. Termasuk calon pendamping Wari yakni Irwansyah karena anaknya masih kecil. Lihat saja Herman Deru. Calon Gubernur yang dulunya Bupati Oku Timur ini, dulu juga mengajukan anaknya Percha Leanpuri maju ke pemilihan Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) tetapi kalah. Wakilnya Mawardi Yahya juga mengajukan anaknya Ahmad Wazir Nofiandi  maju dalam pemilihan Bupati Ogan Ilir setelah dia selesai menjadi bupati di daerah tersebut. Sayang belum sebulan menjabat, anak Mawardi ditangkap dalam kasus narkoba. Anak Mawardi lainnya, Zaitun Mawardi Yahya juga maju dalam pemilihan Bupati Ogan Komering Ilir tetapi kalah.

   Bagaimana dengan calon lainnya? Ishak Mekki yang sebelumnya menjabat sebagai wakil gubernur Sumsel juga pernah mengajukan anaknya Muchendi Mahzareki untuk maju di pemilihan Bupati Ogan Ilir tetapi kalah. Istri Ishak Mekki pun, Tartila Ishak juga pernah diajukan Ishak Mekki dalam pemilihan Bupati Ogan Komering Ilir sesaat setelah Ishak lengser tetapi kalah. Wakil Ishak Mekki, Yudha Pratomo Mahyudin, adalah anak dari Mahyudin yang dulunya pernah menjabat sebagai  Gubernur Sumatera Selatan.

   Sementara itu, calon wakil Gubernur Sumsel lainnya yang ikut maju dalam Pilgub 2018 ini, M Irwansyah yang mendampingi Aswari Rivai, merupakan anak kandung Sopian Rebuin yang pernah menjabat sebagai Walikota Pangkalpinang beberapa tahun lalu.

      Dari analisa tersebut, jadi siapakah yang bisa menuding Alex Noerdin telah melakukan politik dinasti untuk melestarikan jabatan Gubernur Sumsel. Suatu tudingan yang sangat tidak beralasan. Pendukung salah satu calon membabi buta menuding hal tersebut tetapi mereka lupa calon gubernur lainnya juga telah mengajukan anaknya untuk maju dalam pemilihan bupati atau walikota. (ok).

 

BACA JUGA =  Pariwara ucapan Tahun Baru 2019 dari Dinas dan Badan Kab. Mura dan Muratara