Berkat Binaan PT Medco Rimau, Banyak Anak Desa Gajah Mati Jadi Sarjana. Ibu-Ibu Dilatih Membuat Obat Herbal yang Menambah Penghasilan Keluarga

oleh -180 views

Ketua Kelompok Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Kenanga Desa Gajah Mati,  Yeni Lusmita.foto:iwan sariyanto/krw.

PALEMBANG (Kabar Rakyat)– PT Medco P&E indonesia, Rimau, telah sukses membina Mitra Binaan kelompok Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Kenanga Desa Gajah Mati Kecamatan Babat Supat Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan dan menjadi kelompok mandiri. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) bekerjasama dengan Forum Jurnalis Migas (FJM) mengadakan field trip untuk meninjau langsung kegiatan serta keberhasilan yang telah diraih Kelompok Toga Kenanga di Desa Gajah Mati Kecamatan Babat Supat Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumsel pada Selasa,  (1/10/2019) lalu.

Hendry Payana selaku Humas corporate social responsibility (CSR) PT Medco Rimau Muba mengatakan sejak tahun 2012 hingga sekarang PT Medco Rimau telah melatih beberapa orang dari mitra binaan kelompok TOGA Kenanga  untuk mengikuti program pelatihan di Jakarta. ” Tujuannya untuk  memahami dan mengenal macam-macam tanaman dan manfaatnya.  Mereka juga diajari mengolahnya hingga menjadi obat herbal yang siap untuk dipasarkan,”jelas Hendry kepada wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas (FJM) yang diajak field trip meninjau Mitra Binaan Toga PT Medco Rimau, (1/10/2019) .

Lebih lanjut Hendry menjelaskan,  awalnya yang ikut pelatihan ada sekitar 10 orang saja. Semuanya warga Desa Gajah Mati. Mereka dilatih di Karya Sari,  Jakarta yang merupakan pusat pengembangan dan penelitian obat herbal. Disana mereka banyak mendapatkan  pelajaran dan pelatihan tanaman obat keluarga (TOGA) bahkan cara pemasaran juga diajarkan.

BACA JUGA =  Heri Prihariyanto SH Jabat Kasi Pidum Kejari OKI

Hendry Payana selaku Humas CSR PT Medco Rimau Muba sedang menjelaskan tanaman herbal dan khasiatnya kepada wartawan. foti:iwan sariyanto/krw.

Nah,  pulang dari pelatihan selama satu minggu, 10 peserta yang merupakan ibu-ibu rumah tangga tadi  mulai berinisiatif membentuk kelompok wanita herbal Kenanga. Anggotanya kurang lebih 30 orang. Mereka mulai menanam bibit  tanaman obat. Lalu tanaman tersebut  dipanen dan diproses hingga menjadi obat serbuk jamu maupun bubuk herbal yang siap digunakan untuk menghilangkan berbagai macam penyakit. ” Alhamdulillah, obat herbal produksi Kelompok Toga Kenanga ini sudah dikenal di wilayah Provinsi Sumsel maupun Tingkat Nasional.
PT Medco juga memberikan bantuan berupa alat refleksi seperti akupuntur
dan pelatihan pemanfaatan limbah koran menjadi vas bunga,”tambah Hendry.

PT Medco juga dalam melakukan pengrekrutan karyawan juga memprioritaskan tenaga lokal. Warga Desa Gajah Mati dan juga beberapa desa yang beberapa desa  lainnya yang berada di sekitar area PT Medco Rimau,  mendapat prioritas untuk bekerja sesuai dengan disiplin ilmu dan pendidikan. Keberadaan PT Medco Rimau memberi keuntungan bagi warga sekitar perusahaan termasuk juga penyaluran CSR yang tepat sasaran.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Kenanga  Desa Gajah Mati,  Yeni Lusmita mengatakan kenal dan berhubungan dengan PT Medco P&E Indonesia Rimau sejak tahun 2011 namun mulai aktifnya tahun 2012 saat pembentukan kelompok. Setelah pulang dari pelatihan meracik obatan herbal di Jakarta Yeni membentuk Kelompok Wanita Herbal Bersatu dan Koperasi Herbal. ” Peran serta PT Medco sangat besar,  selain kami diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti  pelatihan obat herbal di Jakarta, kami juga terus dibimbing dan disupport hingga dapat memproduksi obat herbal yang siap dipasarkan. Dibantu PT Medco sekarang kami sudah memiliki izin industri rumah tangga dari Dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten Muba dan sekarang lagi proses izin dari BPOM,”beber Yeni Lusmita kepada Kabar Rakyat.

Ternyata Kelompok Toga Kenanga ini sudah banyak menorehkan prestasi di bidang obat herbal secara nasional. Yeni menjelaskan Kelompok Toga Kenanga Juara 1 pada  lomba tanaman herbal tingkat Provinsi Sumsel dan Juara 2 Lomba tingkat Nasional.
Obat-obat herbal produksi dari mitra binaan PT Medco ini bukan hanya dikonsumsi warga dari Desa Gajah Mati saja tapi juga lintas propinsi. Omsetnya pun juga terus meningkat tiap tahunnya.

BACA JUGA =  Tiga Paslon Cabup-Wabup OKI Adu Strategi Memajukan OKI Dalam Debat Publik Pilkada

Obat herbal produksi Kelompok Toga Kenanga Desa Gajah Mati Kecamatan Babat Supat,  Muba, Sumsel.        foto:iwan sariyanto/krw.

“Mengenai omset penjualan pertahun berkisar Rp80 juta lebih. Ada sekitar 10 orang lebih anak warga Desa Gajah Mati telah lulus kuliah dan menjadi sarjana dari hasil penjualan obat herbal, “kata Yeni. Dia juga menjelaskan dengan optimis,  mereka kedepannya akan membuka lahan 1 hektar di Embung Senja.

BACA JUGA =  10 Pemuda Serang 3 Pelajar Dengan Parang. Ketiga Korban Luka Parah, Motornya Dirampas

Sementara di tempat yang sama,  Kepala Desa (Kades) Gajah Mati, Suriyanak menjelaskan sekitar 1.350 kepala keluarga (KK) atau sekitar 3.500 jiwa penduduknya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani atau berkebun. “Dengan adanya Binaan dari PT Medco Rimau Indonesia ini warga gajah mati mendapatkan tambahan income. Selain itu banyak juga warga desa yang bisa bekerja di PT Medco,” kata Suriyanak . Selain itu, masih kata Suriyanak,  obat herbal produksi Kelompok Toga Kenanga ini sudah dikenal di daerah lain lintas propinsi di Indonesia.  ” Saya selaku Kades Gajah Mati mengucapkan terima kasih kepada PT Medco Rimau,  selain telah memberikan pelatihan obat herbal kepada ibu-ibu warga saya,  juga PT Medco telah memberikan satu gedung untuk belajar anak-anak di Embung Senja gratis tanpa biaya, ” jelas Suriyanak.

Kepala Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Muba, Suriyanak.   foto:iwan sariyanto/krw.

Setiyanto Aji Prahoro, selaku Spesialis Operasi Kantor perwakilan SKK Migas mengatakan silahturrahim SKK Migas dan KKKP  khususnya PT Medco Rimau sudah terjalin baik bersama rekan -rekan media yang terus membantu pemberitaan berimbang.
“Harapan saya semoga kerjasama ini terus terjalin dengan baik dan bermanfaat tidak hanya bagi perekonomian industri migas namun juga bermanfaat
bagi perekonomian di Propinsi  Sumatera Bagian Selatan, ” pungkas Setyanto Aji. (iwan sariyanto/krw)

.