Benarkah Putri Dayang Merindu Jadi Batu Karena Disumpah Si Pahit Lidah? Menguak Pesona Mistis Gua Putri Padang Bindu, OKU.

oleh -446 views

Banyak warga mengunjungi Gua Putri pascalebaran. Yudi Nofriyanto (36) salah seorang pengelola Gua Putri.      foto:ferry burmansyah/krw.

BATURAJA (Kabar Rakyat)-
Banyak dari kita yang sudah mengetahui keberadaan Gua Putri. Gua penuh pesona yang berlokasi di Desa Padang Bindu, Kecamatan Semindang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Namun pesona yang kita ketahui selama ini hanya pada tataran pesona lahir saja seperti stalagmit dan stalagtit yang menggelantung dan menyeruak dengan indahnya di sepanjang Gua Putri dan semakin indah berpendar berpadu dengan cahaya lampu yang ada di sana. Suara gemericik air Sungai Sumuhun di sekitar gua juga membuat suasana semakin indah dan penuh dengan ketakjuban.

Pesona lain yang tidak kalah indahnya adalah bebatuan yang menyerupai kursi raja, pembaringan, panggung, pedapuran/dapur, pemandian Putri, ruang penjagaan, ruang berhias dan lain-lain.

Dibalik pesona lahiriah, ternyata tersimpan pesona batiniah/pesona mistis yang memang menjadi buah bibir di masyarakat maupun pelancong yang gandrung akan hal mistik.

Kabar Rakyat di hari lebaran ini mengabarkannya untuk anda. Keberadaan Gua Putri tidak bisa dilepaskan dari kehidupan seorang putri yang bernama Putri Dayang Merindu, anak dari Raja Balian. Sebagaimana ditulis dalam https://deddyhuang.com (14/01/2017 )
“Menurut legenda, dahulu kala hiduplah seorang putri yang bernama Dayang Merindu, selir dari Prabu Amir Rasyid, Penguasa Kerajaan Ogan. Suatu pagi, sang putri mandi di muara Sungai Sumuhun dan pada saat mandi, lewatlah seorang pengembara bernama Serunting Sakti (Pahit Lidah, red) ingin sekali menyapa putri yang berparas cantik itu, tapi kehadirannya tidak diperhatikan Putri Dayang Merindu. Serunting Sakti gusar, dia pun berujar, “Sombong nian putri ini, diam seperti batu.” Belum kering ludahnya, Putri Dayang Merindu menjadi batu. Serunting Sakti kemudian pergi ke desa tempat tinggal Putri Dayang Merindu dan keluarganya. Dilihatnya sepi, Serunting Sakti berujar, “Sepi desa ini seperti gua sepi.” Desa itu pun menjadi gua batu.”

BACA JUGA =  Diduga Sakit, Sopir Truk Fuso Meninggal Dalam Mobilnya Yang Parkir Di Fly Over Nilakandi Kertapati

Dalam sumber-sumber yang lain juga disebutkan bahwa karena kesombongannya itulah yang membuat ia disumpah si Pahit Lidah menjadi batu.
Ditambahkan oleh para pengelola Gua Putri, ” Si Pahit Lidah menyumpahi Putri Dayang Merindu “Jadilah engkau batu, serta seluruh istana ini beserta isinya kecuali tumbuhan dan air.”

Menurut Yudi Nofriyanto (36) salah seorang pengelola Gua Putri sedikit menampik keterangan tersebut ,” putri bukanlah sombong, Si Pahit Lidah salah paham, menurut orang tua-tua di dusun kami, sewaktu Si Pahit Lidah memanggil-manggil Penghuni Istana (Putri Dayang Merindu), Ia tidak mendengar panggilan tersebut, karena sedang mandi di luar istana.”

Dituturkan lebih lanjut oleh Nofriyanto,” bukti nyatanya adalah bahwa Putri Dayang Merindu yang sudah menjadi batu masih ada sampai sekarang dan dikenal dengan Batu Putri, letaknya ternyata bukan di dalam gua, tapi di luar gua, jembatan pertama ke arah jalan lintas di belakang Masjid Tua Al-Abror.

Ditambahkan Nofrianto, kalau arus sungai lagi kecil maka kelihatan pundaknya, tapi jika arus lagi besar cuma kelihatan kepalanya saja. “Masyarakat juga meyakini bahwa gua Putri dulunya adalah sebuah istana, bukan perkampungan,” jelasnya.

Selain itu, menurut para pengelola (Yanto dan kawan-kawan), tidak diketahui secara pasti siapa penemu pertamanya. Gua Putri sudah ada sebelum Desa Padang Bindu berdiri. Namun, yang menemukan Gua Putri adalah masyarakat sekitar.
Gua terletak di tengah hutan, bagi masyarakat yang tidak takut dengan ular, mereka mencari ular, bagi masyarakat yang tidak takut dengan harimau mereka mencari harimau.

Namun berdasarkan fakta yang ada, Gua ini dulu adalah tempat sarang burung walet. Namun lambat laut, walet-walet ini banyak pindah ke tempat lain. Dalam pada itu, banyak pengusaha China membuat gedung walet yang lebih sempurna di sekitar Padang Bindu dan di Desa Ulak Pandan. Memang Gua Putri masih menghasilkan sarang burung walet, tetapi tidak terlalu banyak lagi
Masih ada beberapa gua walet di sekitar Gua Putri, namun sudah menjadi hak milik Pemda. “Akses jalan ke Gua Putri mulai dibuka oleh Bupati saleh Hasan pada tahun 1984-1985,” ujar Nofrianto.

BACA JUGA =  Gelapkan Mobil APV, Mendekam Di Balik Jeruji Besi Polsek Mesuji

Penelusuran Kabar Rakyat ke dalam Gua Putri sampai kepada beberapa peninggalan berupa Kembang Dadar di sudut pintu masuk gua. Menurut masyarakat setempat, dulunya kembang dadar ini adalah pajangan hiasan istana untuk melestarikan persahabatan antara Putri Kembang Dadar Bukit Siguntang Palembang dengan Putri Dayang Merindu. Ada juga pedapuran/dapur sebagai tempat sang putri memasak.

Di sisi gua yang lain ditemukan juga panggung, pembaringan (kamar), pemandian, dan penjagaan. Konon di sisi ruangan penjagaan terdapat harimau yang sudah menjadi batu begitupun dengan padi dan cermin yang juga membatu dengan kokohnya.

Dalam sudut pandang yang lain, gua juga dihubungkan dengan sisi mistisnya. Dilansir dari kompasiana.com disebutkan keberadaan gua, sebagai tempat untuk berkontemplasi, merenungi diri, menyepi, semedhi atau apapun namanya sudah dikenal sejak jaman Nabi. Begitu juga di abad 14 M, saat Pulau Jawa berada dibawah panji Majapahit. Banyak goa digunakan oleh penganutnya untuk melakukan ritual menyepi, melakukan pendekatan pada sang penguasa alam menurut keyakinan dan kepercayaaannya.”

Gua Putri juga mempunyai pesona mistis yang sampai saat ini menjadi buah bibir masyarakat sekitar dan para pelancong yang memang menyenangi hal-hal yang berbau mistis. Menurut Yudi Nofrianto, bagi yang percaya tidak terhitung banyaknya unsur mistis di sini. ” Banyak orang dari seberang (Jawa) yang datang untuk berdoa dan bernazar di Gua Putri. Jika mereka hajat mereka berhasil, maka mereka akan datang kembali ke gua Putri untuk membayar nazar nya dengan menyembelih seekor kambing di lokasi pemandian Putri,”kata Yudi .

Lokasi pemandian Putri Dayang Merindu. foto:ferry b/krw.

Ditambahkannya, banyak orang pintar (paranormal) yang datang ke sini. Dari hasil penerawangan Indra ke -6, mereka berkesimpulan bahwa dulunya Gua Putri adalah sebuah istana.

BACA JUGA =  Rektorat Dukung Polisi Buru Pelaku Pengeroyokan Mahasiswa UMP

Hal lain yang juga mengandung unsur mistis di Gua Putri adalah sebelum memasuki gua, pengunjung dianjurkan untuk mengetuk batu sebagai tanda salam untuk masuk dalam gua ke para leluhur yang ada di dalamnya dan menjaga sikap, perkataan dan perbuatan selama berada di dalam, agar penunggunya tidak marah.

Menurut kabar dari mulut ke mulut dan memang sudah menyebar ke masyarakat adalah siapa yang membasuh wajahnya di pemandian Putri Dayang Merindu, maka ia akan awet muda. Hal ini ditampik Yudi Nofrianto. ” Jika membasuh muka dengan air di tempat pemandian Putri, tentu semua warga Desa Padang Bindu akan awet muda selorohnya,”seloroh Yudi. Menurut penelitian yang pernah dilakukan suatu instansi air tersebut mengandung zat mineral batu kapur sehingga pori-pori kulit menjadi kencang.

Sisi mistis yang juga tidak kalah mengejutkan adalah sebagaimana dilansir.dari wattpad.com menyebutkan bahwa: saat banjir melanda daerah ini tahun 1982, jembatan penghubung desa ke seberang hancur dihantam air. Air sudah sangat tinggi, tapi anehnya Batu Putri ini tidak tenggelam ataupun roboh. Percaya atau tidak, kalau batu putri sampai tenggelam atau roboh maka dunia kiamat”.

Masih menurut para pengelola Gua Putri, mereka menceritakan bahwa, “menurut penerawangan orang-orang yang mempunyai Indra ke enam, banyak pusaka yang terkubur di dalam Gua Putri.

Sebagai catatan akhir, dijelaskan oleh pengelola Gua Putri yang di wakili oleh Yudi Nofrianto, “bahwa kami tidak ingin masyarakat berhalusinasi akan hal itu, kami hanya menceritakan dan kami dilarang untuk menyarankan, mengarahkan, dan mengajak ke arah tersebut.”
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa Gua Putri adalah salah satu bukti kekuasaan Allah, SWT sebagai satu bentuk pembelajaran akan tingginya suatu nilai peradaban yang masih eksis hingga sekarang.(ferry burmansyah/krw)