2 Alumni STM Pertambangan Mengaku Tidak Kenal MY. Didampingi Syamsul Kedua Alumni Melapor Ke Mabes Polri

oleh -276 views

Syamsul Rizal dan 2 Alumni STM Pertambangan Palembang saat  diterima  oleh Kasi Pidum Bareskrim, Kompol Hendro Siswanto di Mabes Polri Jakarta, Jumat (8/6). foto:ist.

PALEMBANG (Kabar Rakyat)-Kembalinya Syamsul Rizal ke Palembang yang belakangan ini  banyak aktif di Jakarta, hanya ingin membuat terang benderang soal keaslian ijazah salah satu calon Wakil Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Nomor Urut 1 , MY. Syamsul yang sejak tahun 2005 dulu sudah aktif melakukan penelusuran terhadap rekam jejak dan riwayat pendidikan MY, mengakui  memiliki banyak bukti, saksi serta informasi valid terkait dugaan kuat ijazah MY yang terindikasi kuat palsu.

Lapor Mabes Polri

Dua Alumni STM Pertambangan Palembang tahun 1977, Syahril Anwar dan Helmansyah mendatangi Bareskrim Mabes Polri di bilangan Gambir Jakarta, Jumat (8/6). Keduanya didampingi Syamsul dan Ormas Putra Sriwijaya.

Kedatangan mereka hendak menyampaikan beberapa bukti pendukung adanya dugaan ijazah palsu milik MY sekaligus membuat laporan pengaduan atas adanya dugaan kejanggalan ijazah Cawagub Sumsel Nomor Urut 1 tersebut.

Dalam konferensi persnya di hadapan para jurnalis media nasional di Jakarta, Jumat (8/6/2018), Syamsul Rizal mengungkapkan berbagai kejanggalan keabsahan ijazah MY yang diketahui saat ini salah satu calon Wakil Gubernur Sumsel 2018. “Saya benci ada orang yang tidak sekolah namun dengan membayar Rp20 juta bisa dapat ijazah,”tegas Syamsul.

Syamsul dan Ormas Putra Sriwijaya mendesak Mabes Polri untuk turun tangan mengungkap dugaan skandal ijazah palsu MY dengan cara menyelidiki dugaan kejanggalan ijazah itu dengan dasar data-data yang dilampirkan dalam membuat laporan pengaduan itu. “Hari ini saya dan dua Alumni yang telah membuat peryataan bahwa mereka yakin tidak mengenal MY sebagai teman satu angkatan di STM Pertambangan Palembang. Dan juga atas laporan ke Mabes Polri ini kami mendesak agar Mabes Polri dapat mencabut laporan kami terdahulu ke Polda yang di SP3kan pada 2004 yang saat ini tak ada kabarnya. Bagaimana mungkin, laporan belum diperiksa tapi sudah di SP3,”tegasnya.

BACA JUGA =  Preman Meresahkan Tewas Setelah Saling Tembak Dengan Aparat Unit Ranmor Polresta

Syamsul dan 2 Alumni STM Pertambangan Palembang berjuang mengungkap kebenaran mendatangi Mabes Polri. foto:ist.

Syamsul memastikan kalau dia adalah pensiunan PT Pusri dan tidak ada kaitan dengan calon cawagub tersebut baik sebagai teman sekolah atau warga satu dusun. Motivasinya melakukan penelusuran keaslian ijazah MY agar masyarakat Sumsel mendapatkan pemimpin yang berkualitas dan jujur. “Oleh karena itu saya mengimbau, ayo bagi siswa STM Pertambangan Palembang pada tahun 1977 muncullah, bantu untuk mengungkapkan  kebenaran ,”pungkasnya.

Disdik Janji Bantu 

Sekedar mengingatkan, Gabungan LSM di Sumsel beberapa waktu lalu mendatangi Kantor Dinas Pendidikan ( Disdik) Sumsel untuk mempertanyakan soal ijazah MY yang mengaku lulusan STM Pertambangan Palembang tahun 1977 (sekarang sekolah itu sudah tutup, Red)  terindikasi aspal (asli tapi palsu).

Namun Kadisdik Sumsel, Drs Widodo, yang menerima para LSM saat itu memberi jawaban yang terkesan mengambang dan menyatakan ketidakberwenangannya untuk menyatakan apakah ijazah MY itu palsu atau asli. Dia (Widodo) malah meminta agar alumni STM Pertambangan Palembang muncul ke publik dan menyatakan apakah MY pernah bersekolah bersama mereka.

BACA JUGA =  Kecanduan Narkoba Seorang Ibu Tega Jual Bayinya Seharga Rp20 juta. Uangnya Dipakai Buat Beli Sabu

Maka itu Muhammad Soleh yang merupakan Ketua Organisasi Masyarakat (Ormas) Putra Sriwijaya, Kamis , 7 Juni 2018 lalu menemui Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Drs Widodo MPd. Dia datang bersama Syamsul Rizal dan menyerahkan dokumen hasil penelusurannya (Syamsul) ke beberapa instansi terkait dugaan ijazah palsu MY. “Saya memiliki banyak data soal dugaan ijazah palsu MY,” kata Syamsul.

Mereka mendesak Disdik Sumsel membantu menyingkap kebohongan ini, dengan cara mengeluarkan Daftar Peserta Ujian (DPU) dan Daftar Ijazah yang terpakai pada ijazah STM Pertambangan Palembang.

Menurut Syamsul, DPU STM Pertambangan Palembang yang pada waktu itu menjabat Kepala Sekolahnya adalah Ir Syarbini Husein Alam  telah dipalsukan oleh yang bersangkutan dengan indikasi bahwa DPU tersebut telah disusun dengan benar. ” Tapi beberapa tahun kemudian sekitar tahun 2000 DPU yang diserahkan ke Diknas Provinsi Sumsel pada waktu itu diduga diubah oleh Syarbini Hussein Alam dengan memaksakan memasukkan nama MY ke dalam DPU tahun 1977. Artinya mantan Kepsek STM Pertambangan ini telah memalsukan DPU,”terangnya.

Untuk memperkuat posisi MY pada pencalonan Bupati Ogan Ilir periode 2005-2010 maka Ir Syarbini Hussein Alam, lanjut Syamsul, mengkordinir tiga orang mantan siswa STM Pertambangan Palembang tamatan tahun 1977 agar menandatangani surat pernyataan bahwa MY adalah teman sekelas mereka. Dengan tiga surat pernyataan itu mampu mengantarkan MY maju ke pencalonan Bupati Ogan Ilir 2005-2010. “Sebagai imbalannya maka Ir Syarbini Husein Alam ditempatkan pada BUMD sebagai salah satu Direktur (Dirlitbang) pada PT Petrogas yang berkantor di Indralaya Ogan Ilir,” beber Syamsul.

BACA JUGA =  Oknum Perwira Pertama Polres OKU Bertindak Arogan ,Hendak Rampas Kamera Reporter TVRI Sumsel yang Sedang Meliput Kasus Pembunuhan

Indikasi adanya ‘sesuatu tak beres’ pada ijazah MY terus menyeruak. Menurut Syamsul ada yang janggal jika dicermati. “Pada saat mencalonkan diri sebagai anggota DPRD , ijazah yang yang dia (MY) cantumkan saat itu ijazah SMEA sedangkan ijazah dia insinyur. Jadi salah satu Tata Usaha pernah  bertanya mengapa bapak Insinyur tapi menyodorkan ijazah SMEA, lalu digantilah dengan ijazah STM Pertambangan, “urai Syamsul didampingi M Soleh dan Aminullah.

Syamsul yang merupakan Guru besar Perguruan Tenaga Dalam Mandiri (Tedari) itu juga sebelumnya sudah membawa kasus ini ke ranah hukum. Dia pernah melaporkan kasus dugaan ijazah palsu MY ke Polda Sumsel namun kandas. Hal itu disebabkan, masih menurut Syamsul, diduga penyidiknya tidak propesional sehingga kasus tersebut diSP3kan. “Saya akan melapor ke Mabes Polri dan mendesak agar mencabut laporan ke Polda yang di SP3 kan pada 2004 yang saat ini tak ada kabarnya. Bagaimana mungkin, laporan belum diperiksa tapi sudah di SP3,”tegasnya.

 

 

Kepala Disdik Sumsel, Drs Widodo bersama Syamsul (baju hitam) dan Ormas Putra Sriwijaya. foto:ist.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Drs Widodo MPd menegaskan untuk DPU memang sampai saat ini dia belum menemukannya lagi. ” Tapi kalau reguler ada karena sebagian yang menangani sudah pensiun. Tapi kami akan cari dan diusahakan secepatnya termasuk daftar kelulusan akan saya cari,”janji Widodo. ­Pihaknya ( Disdik Sumsel) berjanji akan membantu data apapun untuk menyingkap kebenaran yang sewaktu-waktu ditanyakan pihak hukum untuk proses penyelidikan. (tim/krw)